Story - Part 4

Di goreskan oleh Yunna , Kamis, 03 Februari 2011 11.00

7


Widhi memandang ke arah Alin dengan capek. Sudah sejam pembicaraan mereka tak juga selesai. Sejak mereka pacaran dua bulan lalu, Widhi kadang tak pernah bisa mengerti apa yang di inginkan pacarnya.
“Ayo dong! Anterin aku dulu,” Alin merajuk dengan suara kesal.
Widhi memilih tak menjawab. Kemudian ia sekilas menoleh, merasa sedang diperhatikan. Benar saja. Ia melihat Winna baru saja membalikkan badan dan pergi. Winna melihatnya.
Kadang ada rasa bersalah hinggap di hatinya. Dulu ia memang suka Winna. Menurutnya Winna itu istimewa. Ekspresinya yang sangat mudah berubah begitu menarik di matanya. Senyumnya yang lebar saat menyapa semua teman-temannya.
Entah sejak kapan ia mulai memperhatikan tiap detil kebiasaan gadis itu. Mereka berpisah saat kenaikan kelas. Gap dan jarak antara kelas IPA dan IPS membuatnya seringkali berpikir ulang. Dan Widhi memutuskan untuk melupakan Winna.
Tapi ia juga tahu, terkadang Winna masih sering memandang ke arahnya. Atau menghindar saat tatapan mata mereka bertemu. Atau bahkan terkejut dan pergi saat tiba-tiba mereka bertemu seperti sekarang.
Widhi menghela nafas lagi. Maafin aku, Win. Ucapnya pelan dalam hati.
“Jadi anterin nggak?” suara pacarnya, Alin mengangetkan Widhi.
Sejurus kemudian Widhi mengangguk. “Iya. Aku ambil helm dulu. Bentar.”
^^^
Winna menyebrang jalan dengan buru-buru. Nyaris saja sebuah mobil menabraknya. Suara klakson mobil yang memekakkan telinga sdikit menyadarkannya. Hatinya agak sakit. Ia sudah berkomitmen dengandirinya sendiri untuk melupakan Widhi.
Tapi kenapa sekarang? Di saat ia mulai bisa melepas bayang-bayangnya, Winna malah bertemu dengan Widhi dan juga pacarnya itu. Hatinya serasa remuk. Ia ingin menjerit dan menangis. Tapi ditahannya dengan sekuat tenaga.
Dihelanya nafas panjang. Mencoba menenangkan diri sebisanya. Berusaha keras agar tak menangis di pinggir jalan.

Fandi menghentikan motor di pinggir jalan, di depan Winna. Gadis itu duduk di pinggir pagar sekolah sambil menunduk. Hanya dengan melihat reaksi Winna dan Widhi, Fandi sudah bisa membaca semuanya.
‘Seseorang’ yang sulit diungkapkan Winna dengan tulisan itu sudah pasti Widhi. Dan mungkin sampai sekarang Winna masih belum bisa melupakannya.
Fandi bergerak turun dari motor. Perlahan ia mendekati Winna dan melepas jaketnya. Kemudian jaket itu digunakannya untuk menutupi wajah dan kepala Winna. Gadis itu kaget, tapi tak bergerak.
“Nangis. Kalau kamu pengen nangis nangis aja. Anggap aku nggak ada. Anggap kamu bukan di pinggir jalan dan nggak akan ada yang liat kamu.”
Setelah mendengar ucapan Fandi, perlahan bahu Winna mulai bergetar. Air matanya meluncur turun. Tangannya bergerak menutupi wajah. Tangisnya pecah.
^^^
Zia keluar dari toko buku dengan kesal. Adiknya minta dibelikan crayon dan macam-macam perlatan menggambar lainnya. Menguras isi kantongnya hanya dalam sekali belanja.
Sambil berjalan menuju motornya, dalam hati Zia menghitung sisa uang yang masih ada di dalam dompetnya.
“Menyebalkan,”gerutunya pelan. Tangannya bergerak, menggantungkan tas plastik  berisi pesanan adiknya.
Zia naik ke motornya, dan memasukkan kunci kontak. Belum sempat ia memutarnya, mata Zia menangkap sesuatu yang lain.
Motor supra x merah itu sudah pasti milik Fandi. Pemiliknya berdiri di trotoar dan membelakangi Zia. Tampaknya dia sedang melihat sesuatu. Ada tatapan sedih di matanya. Pandangan Zia bergeser, memandang apa yang ada di balik tubuh Fandi. Ia melihat seorang gadis duduk di pinggir pagar. Sepertinya sedang menangis. Jaket menutupi wajahnya, tapi dengan mudah Zia mengenalinya. Itu Winna.
Hatinya mencelos lagi. Sedih.
Tak ada yang menyangka kalau Fandi berbuat seperti itu pada seorang gadis. Melindungi seorang wanita yang menangis di pinggir jalan. Danmemandangnya dengan tatapan yang sanggup membuat wanita terpana.
Tiba-tiba Zia ingin menangis. Ditutupnya kaca helm, dinyalakannya mesin motor dan bergegas pergi sebelum ia benar-benar menangis.
^^^
Fandi menatap Winna dengan agak cemas. Langit sudah berubah gelap sejak 15 menit yang lalu. Tapi Winna sepertinya belum berniat beranjak dari tempatnya. Bahunya masih agak bergetar karena tangisnya.
Fandi berjongkok, meraih tas Winna. Kalau ia tidak salah, Winna selalu membawa tissue di dalam tasnya. Benar saja. Ia menemukannya. Ditariknya dua lembar tissue. Kemudian disodorkannya kepada Winna.
Winna mengangkat sedikit kepalanya, kemudian menerima tissue yang di sodorkan Fandi.
“Kenapa?” suara Winna masih terdengar serak.
Fandi tersenyum. “Aku bukan cowok yang bakal mbiarin cewek nangis di pinggir jalan. Apalagi karena cowok lain. Aku masih punya perasaan.”
Winna menurunkan jaket dari kepalanya, kemudian mendongak dan menatap Fandi. “Makasih,” lirihnya lagi.
“Aku anterin kamu pulang. Kamu bisa berdiri?” Fandi mengulurkan sebelah tangannya.
Winna menolak uluran tangan Fandi dan berdiri sendiri. Meraih tasnya.
Fandi memakai helmnya. Kemudian menyodorkan helm kepada Winna. Dengan hati-hati gadis itu memakai helm. Fandi memperhatiakan wajah cantik yang sedang bersedih didepannya. Wajahnya agak pucat dan kantung matanya agak terlihat.
Mesin motor menyala, dan Winna naik ke belakang Fandi. “Udah siap?”
“Iya,” suara Winna terdengar lirih.
Motor melaju dengan kecepatan rendah. Fandi ingin lebih lama menikmati waktunya. Tak ingin membiarkan gadis dibelakangnya ini sendirian. Kemudian ia merasakan kepala Winna bersandar di punggungnya.
Tak bisa di pungkiri lagi. Ia bahagia.
^^^
Fandi menghentikan motor di depan rumah Winna. Winna turun dan melepas helmnya.
“Makasih Fan. Makasih buat semuanya.”
Fandi tersenyum. “Sama-sama. Kamu nggak papa kan?”
Winna mengangguk. Kemudian membuka gerbang rumah dan beranjak masuk tanpa kata-kata. Fandi terus menatap punggung Winna sampai gadis itu masuk ke dalam rumah. Berdoa semoga dia akan baik-baik saja. Berdoa semoga dia tak terluka lagi.
^^^
Setelah mandi dan menyegarkan tubuh, Winna langsung masuk ke dalam kamr tanpa berkata apa-apa kepada orang tuanya. Ia tidak ingin membuat mereka khawatir berlebihan padanya.
Winna menatap wajahnya di depan cermin. Wajah habis menangis jelas terlihat di sana. Ia menggigit bibir. Teringat kejadian tadi. Entah apa jadinya ia kalau Fandi tidak datang tadi. Mungkin ia sudah dikira orang gila karena menangis di pinggir jalan.
Fandi.
Winna tersenyum mengingat pemuda itu. Dia cuek. Tapi sebenarnya sangat baik hati dan penuh perhatian pada perempuan. Dengan sabar tadi ia menunggunya menangis dan mengantarnya pulang setelah itu.
Winna menuju meja belajarnya. Membuka lemari dan mengeluarkan laptop. Menyalakannya dan mulai menulis.

Kali ini aku sakit.
Aku terluka karena dia dan durinya.
Aku menangis.

Air mataku bagai sungai.
Sungai yang ingin kupakai untuk menghanyutkanmu.
Membawamu jauh dari semua kehidupanku.

Di manakah obatnya?
Obat dari duri yang kau tancapkan.
Duri yang merobek hatiku dan mengucurkan semua perasaanku.

Di mana aku harus mencari?
Di hatimu?
Atau di hatinya?

“Mungkin aku sudah menemukannya,” ucap Winna lirih sambil tersenyum.


8


Hari minggu yang tenang. Winna bertemu Putri di salah satu cafe di pinggiran kota. Jalanan siang terlihat sepi. Putri menatap wajah sepupunya dengan lekat. Mencoba menebak apa yang terjadi. Apa yang baru di alami Winna.
Wajah Winna tidak seperti biasanya. Mendung. Kantung di bawah matanya menjelaskan pada Putri bahwa sepupunya ini habis menangis. Wajahnya agak pucat, membuat Putri sedikit khawatir.
“Win,” Putri membuka suara, “kamu kenapa? Ada yang mau kamu ceritain sama aku?”
Winna mengangguk. “Banyak. Banyak banget Put. Aku bingung harus mulai dari mana.”
“Sebaiknya sih mulai dari hal yang paling berat menuju ke hal yang paling ringan.”
Winna menghela nafas, bersiap memulai ceritanya.
“Kemarin aku ketemu Widhi Put. Dia gak cuma sendirian aja. Dia sama pacarnya. Aku kaget Put. Kaget banget. Aku bener-bener pengen nangis. Dan kau langsung pergi, kelau sekolah.
Satu hal yang nggak aku duga. Fandi ngikutin. Dia nolongin dan nutupin aku sementara aku nangis. Dia nglindungin aku,” cerita Winna sedikit terputus.
“Dia nungguin sampe aku berhenti nangis. Sampe aku capek nangis. Setelah itu dia nganterin aku pulang. Kalau boleh jujur sih, aku terharu banget. Aku bener-bener nggak nyangka ternyata dia sebaik itu.”
Winna sedikit berkaca-kaca saat menyelesaikan ceritanya. Putri terdiam sejenak. Bingung harus mengatakan apa pada sepupunya itu.
“Win, itu berarti Fandi perhatian sama kamu. Dia punya sisi baik yang mungkin gak setiap saat dia tunjukin ke orang lain. Dan kamu beruntung bisa ngerasain sisi baiknya itu,” Putri mencoba berpendapat.
^^^
Fandi membuat kesalahan lagi. Ini sudah ketiga kalinya Fandi merusakkan foto. Fandi menghela nafas. Meletakkan kertas foto yang rusak itu. Bena mendekati Fandi dan menepuk bahunya. Begitu juga dengan Rofik.
“Istirahat aja dulu. Kamu kayaknya lagi nggak konsen ya Fan? Aku mau ambil minum dulu,” Rofik menepuk bahunya dua kali, kemudian keluar dari ruang gelap bersama Bena.
Ruangan itu terasa sepi. Merasa tidak enak, Ivan menggantung foto yang sedang dicetaknya dan mendekati Fandi. Ia tahu ada yang tak beres dengan sahabatnya itu dan mulai membuka suara.
“Kenapa Fan? Kayak bukan kamu yang biasa aja,” timpalnya ringan.
Fandi memandangnya dengan tatapan minta tolong. “Van, kalau kamu tiba-tiba jadi perhatian dan selalu pengen nolong seorang cewek yang sebelumnya cuma kamu kenal biasa aja, apa artinya?”
“Kamu jadi gak pengen liat dia sedih. Dan kemu seolah ingin nanggung semua yang dia rasain juga,” lanjut Fandi kemudian.
Ivan berpikir sebentar. “Kalau aku sih,” ucapnya kemudian, “Mungkin udah mengira itu cinta. Apalagi coba kalau bukan cinta.”
“Kamu,” ucapan Ivan terputus sejenak, “Lagi suka sama seseorang?” tanyanya lagi dengan hati-hati.
Fandi mengacak rambutnya. “Itu dia. Aku lagi bingung sekarang, Van.”
Ivan mengangguk-angguk.
“Kalau gitu tunggu aja sampai waktu mengatakan padamu itu cinta apa bukan.”
Fandi terdiam. Kata-kata polos sahabatnya itu memang benar. Sangat benar. Kalau ia sekarang belum bisa menemukan artinya sekarang, mungkin nanti waktu akan membukanya padanya secara perlahan.
Fandi akan menunggu.
^^^
“Put, mungkin kali ini aku jatuh cinta.”
Putri terkejut dengan perkataan saudaranya itu. Matanya mencoba mencari unsur bercanda di balik mata bening Winna. Winna sepertinya serius.
“Kalau itu cinta, kamu harus menerimanya. Sabar menerimanya sampai cinta itu benar-benar menyambutmu,” Putri tersenyum.
Setelah itu keduanya terdiam. Membiarkan susana sekitar menyerap ke dalam diri mereka.
Putri menatap saudaranya lagi dengan penuh kasih sayang. Ia selalu berharap yang terbaik untuk Winna. Semoga kali ini bukan hanya cinta moyet yang akan membawa tangisan. Tapi cinta yang membawa kebahagiaan.
Ya...
Kebahagiaan untuk sepupunya. Kebahagiaan yang tidak akan membuatnya menangis lagi. Putri menantikan hal itu.
^^^
Zia memakan kripik kentang sambil menonton tv dengan gelisah. Ia bingung harus bagaimana menentukan apa yang akan di lakukannya. Memusuhi Winna seperti disinetron yang sering di tontonnya? Atau langsung memaafkan Winna dan bersikap seolah tak ada apa-apa?
Zia tak bisa melakukan keduanya. Winna adalah salah satu sahabat terbaiknya. Ia tidk bisa memusuhinya. Tapi Zia juga tak bisa bersikap seolah tak ada apa-apa. Zia menggigit bibir. Ada banyak kemungkinan yang berkecamuk di dalam hatinya.
Ia bingung.
^^^

Ketika waktu bergerak dengan begitu cepat.
Kami bingung.
Ketika waktu bergerak begitu lambat.
Kami bingung.
Ketika waktu berhenti dan mempermainkan kami.
Kami tak bisa berbuat apapun.

Menunggu waktu yang memberi jawaban.
Menunggu waktu memberi tanggapan atas kebingungan kami.

Kami akan menunggu...

Story - Part 3

Di goreskan oleh Yunna , Rabu, 02 Februari 2011 11.00

 5

Winna menatap wajahnya di cermin. Lingkaran matanya terlihat agak hitam. Wajar saja, semalaman ia tidak bisa tidur. Winna menepuk pipinya. Berdoa agar ia baik-baik saja hari ini. Semoga ia tak pingsan gara-gara kurang tidur.
“Win, sarapan.”
Teriakan ibunya menyadarkan Winna. Gadis ini menguncir rambutnya, meraih jaket dan bergegas keluar kamar. Di ruang makan ia melihat ayahnya, masih memakai sarung dan kaus oblong, sedang minum kopi. Ibunya meletakkan lauk ke atas meja makan.
“Begadang lagi ya sayang?” ibunya bertanya.
Winna mengangguk seadanya. “Ada yang harus Winna kerjain.”
“Tapi bukan berarti kamu nglupain tidur lho,” ayahnya menimpali sambil menatap wajah putri satu-satunya itu.
Winna diam, memilih tak menjawab. Menyendokkan makanannya pelan-pelan dan berusaha menikmati tiap suapannya.
^^^
Ini menjadi hari yang berat bagi Winna. Ia capek. Pelajaran hari ini sama sekali tak masuk ke otaknya. Tiba-tiba Winna jadi merindukan kasur dan bantalnya.
Rara menatap teman sebangkunya dengan khawatir. “Kamu nggak papa kan, Win?”
Winna mengangguk, “Iya. Makasih catatannya. Kamu pulang aja.”
“Bener nggak papa?”
“Bener,” Winna memaksakan diri tersenyum.
Rara akhirnya menurut dan beranjak pergi. “Hati-hati ya.”
Winna tersenyum membalas nasihat kawannya itu. Kemudian Winna mendesah pelan. Meruntuki nasibnya sendiri. Setelah ini masih ada rapat pengurus yearbook. Entah ia masih sanggup melewati rapat itu atau tidak. Winna memejamkan matanya. Tenggelam ke alam mimpi.

Fandi turun dari motornya, kemudian bergegas menuju kelas. Winna menunggunya di sana.
Sampainya di kelas, Fandi menemukan Winna tertidur di meja dengan beralaskan tangan. Wajah gadis itu terlihat lelah. Fandi tak berniat membangunkan Winna. Yang dilakukannya hanya duduk di sebelah Winna. Mengamati gadis itu tertidur. Senyuman samar tersungging di bibirnya.
Perlahan kameranya terangkat. Mengambil frame demi frame foto gadis itu. Cahaya matahari menyinari wajahnya. Cantik. Itulah yang dilihat Fandi dari balik kameranya. Membuat Fandi tak bisa berhenti memotret.

Zia keluar dari mushola sambil merenggangkan tangan. Kemudian meraba sakunya. Berlanjut membuka tasnya. Alis gadis itu berkerut. Ke mana hp-nya? Apa tertinggal di kelas? Zia kembali mengingat-ingat.
Zia menepuk dahinya sendiri. Dengan langkah panjang ia berjalan menuju kelas. Sepi. Kelasnya sangat sepi. Mungkin semuanya sudah pulang sejak tadi. Zia tersenyum sendiri dan melangkah masuk kelas. Tapi ia terkejut.
Di bangku pojok, ada Fandi yang sedang duduk memainkan kameranya. Di sebelahnya ada Winna. Gadis satu itu sedang tertidur, dengan Fandi menunggui di sebelahnya. Rambut panjangnya tergerai, sedikit menutupi wajahnya. Zia menelan ludah diam-diam.
“Aku mau ambil hp,” Zia menuju bangkunya di baris ke tiga.
“Ambil aja,” Fandi tersenyum.
Terburu-buru, Zia keluar segera setelah menemukan hp-nya. Langkahnya cepat dan lebar. Ia kaget dengan apa yang dilihatnya di dalam kelas tadi.
Sedang apa Fandi di situ? Bukankah sekarang ada rapat panitia? Kenapa mereka malah di dalam kelas?
Zia sama sekali tak mengerti. Ia cemburu. Itu pasti. Tapi tak baik jika kita cemburu pada seseorang yang belum tentu menyukai orang yang kita sukai. Pikirnya lagi.
Wajah gadis itu muram, semuram langit sore yang semakin menggelap. Mendung.
^^^
Winna terbangun saat merasakan getaran di meja yang menjadi alasnya tidur. Perlahan ia membuka matanya. Lalu kaget saat melihat Fandi di sebelahnya.
“Sori. Kamu jadi bangun.”
“Ngapain kamu di sini?”
Fandi menggeser duduknya. “Nungguin kamu tidur. Aku takut kelasnya bakal dikunci waktu kamu tidur.”
“Bukan itu,” Winna melihat jam dinding, “kenapa kamu nungguin aku? Bukannya harus rapat?”
Fandi beranjak bangun. “Males,” jawabnya pendek, “pulang?”
Winna menghembuskan nafas keras. Kemudian beranjak bangun, keluar kelas dan menuju kran yang ada di depan kelas. Menyalakannya dan mencuci muka. Fandi mengikutinya sambil membawa tas mereka berdua, menatap punggung Winna. Ada sedikit perasaan yang sulit di ungkapkannya.
Tiba-tiba Winna menoleh, mengagetkan Fandi.
“Ambilin tissue dong. Di dalem tasku.”
Fandi mengangkat alis. “Nggak papa nih aku buka tasmu?”
“Nggak ada barang penting, buka aja. Tapi jangan liat yang macem-macem.”
Fandi menurut. Membuka tas Winna dan menemukan sebungkus tissue travel pack, kemudian menyodorkannya kepada gadis di depannya. Winna menarik dua lembar tissue, yang digunakan untuk mengeringkan wajahnya. Fandi kembali memasukkan bungkusan tissue ke dalam tas Winna.
“Aku tidurnya lama ya, tadi?” Winna bertanya.
Fandi pura-pura berpikir. “Lumayan. Yang jelas kita udah ketinggalan rapat.”
Winna meringis pelan. “Maaf deh. Lagian kenapa kamu nggak berangkat rapat aja?”
“Dan ninggal kamu yang tidur dan mungkin aja kekunci di dalem kelas? Nggak mungkin kan?” Fandi tersenyum menatap Winna.
Winna tertegun sesaat. “Makasih ya...”
“Pulang?” Fandi mengulang pertanyaannya.
“Iyalah,” Winna menjawab sambil membuang tissue ke dalam tong sampah.
Fandi berbalik, menuju tempat parkir. “Aku anter.”
“Eh,” Winna terkejut sendiri. Belum sempat Winna mengeluarkan bantahan, Fandi membuka suara lagi.
“Aku bawa helm. Dan aku nggak mungkin biarin kamu pulang sendiri. Bisa-bisa kamu nyasar gara-gara ketiduran. Dan aku nggak nerima kata ‘nggak’.”
Winna menutup mulutnya. Memilih mengikuti langkah Fandi. Kedua mata gadis ini terus memandang punggung tegap di hadapannya. Perasaannya campur aduk. Kesal, namun juga tersanjung dengan perlakuan pemuda itu. Tanpa sadar ia tersenyum.
^^^
Lampu lalu lintas berubah merah. Fandi mengerem dan menghentikan motornya. Lalu lintas sore ini agak ramai, membuatnya memilih melajukan motor dengan kecepatan sedang. Fandi melirik ke arah spion, Winna sama sekali tak bersuara sejak tadi.
“Kamu nggak papa kan?” tanya Fandi khawatir.
“Nggak kok.”
Mendengar suara gadis itu sudah membuat Fandi sedikit lebih tenang. Samar-samar wangi parfum manis tercium olehnya.
Lampu berubah hijau. Fandi kembali melajukan motornya. Perlahan, ia merasakan tangan Winna menyentuh punggungnya. Ada perasaan lain di hatinya. Sekali lagi Fandi melirik spion. Mendapati gadis di belakangnya baik-baik saja, entah kenapa membuat hatinya jadi begitu lega.

Winna keluar dari kamar mandi. Rambut panjangnya masih basah dan tergerai di punggungnya. Winna berjalan menuju dapur, mengambil segelas susu dan membawanya ke dalam kamar.
Gadis ini menijit pelipisnya perlahan. Ia ingin tidur lebih cepat hari ini. Ia sudah lelah. Diletakkannya susu di atas meja belajar. Kemudian hp-nya bergetar pelan. Satu pesan baru. Dari Fandi.
Tidur!
Singkat memang. Tapi bagi Winna itu sudah menyiratkan sejuta perhatian. Ditulisnya pesan balasan. Lalu dibantingnya tubuh ke atas kasur. Perlahan dipejamkannya mata. Menyamankan tubuhnya yang lelah.
^^^
Fandi menatap hp-nya sejenak. Lalu mengambil gitar, memainkannya dengan nyaman. Bibirnya mengumamkan nada dan lirik lagu. Menghiasi malam yang semakin larut. Menemani jangkrik dan hewan malam yang bersenandung riang di alam yang kejam.
Hp-nya berbunyi. Fandi meraih hp-nya dan membukanya. Satu pesan baru. Winna.
^_^
Hanya simbol senyum memang. Tapi itu sudah lebih dari cukup. Fandi lega. Winna pasti akan baik-baik saja. Ia yakin akan hal itu. Fandi tersenyum lebar. Kemudian melanjutkan permainan gitarnya. Untuk menemani malamnya yang panjang.

6


Bagaikan bulan yang merindukan matahari aku merindunya.
Semangat jiwaku hilang karena gelapnya.

Ingin ku meraihnya sekali lagi.
Mendapat lagi apa yang kusebut cahaya.
Apa yang kusebut cinta.

Sanggupkah aku bertahan?
Bertahan menghalau semua pesona dan cahaya yang membutakanku.
Pesona yang membuatku semakin menjauh karena tak sanggup.

Kedua alis Fandi berkerut saat membaca puisi yang ditemukannya di antara kertas HVS yang dibawa Winna.
“Apaan nih, Win?” tanya Fandi sambil mengacungkan kertas berisi puisi itu.
“Apa?” Winna mendongak dari laptopnya menatap Fandi. Kemudian matanya beralih pada kertas yang diacungkan Fandi. Ia terpekik.
Tangan Winna dengan gesit merebut kertas puisinya. “Kok bisa dikamu sih?”
“Aku nemu di tumpukan kertas yang kamu bawa,” Fandi mengangkat bahu dengan cuek. Tidak peduli dengan Winna yang cemberut akibat perbuatannya barusan.
Winna diam sambil tetap memandang layar laptopnya. Fandi menatap wajah Winna dari samping sejenak.
“Puisimu bagus.”
“Apa?” Winna menoleh, mengira telinganya salah dengar.
Fandi mendesah kesal, mengulangi kata-katanya. “Puisimu bagus. Tapi kesannya kamu putus asa banget.”
“Makasih, tapi aku nggak putus asa” Winna tersenyum lagi.
Suara air hujan semakin jelas terdengar di luar. Sesekali suara ketikan ikut mendominasi. Sepi. Kelas ini begitu sunyi. Winna tidak berhasil menemukan topik pembicaraan yang cocok. Sementara Fandi sepertinya tak tertarik bicara.
Bosan, kemudian Winna mematikan laptopnya. Menutup dan memasukkannya kedalam tas. Tangannya menarik tissue dari tas dan digunakan untuk membersihkan minyak di wajahnya.
“Mau permen?” tawarnya pada Fandi.
Fandi melirik tangan Winna. Permen Alpenlibe. “Nggak. Makasih.”
Winna mengangkat bahu, “Ya udah.”
Fandi melirik jam dinding. 15 menit lagi ia ada janji dengan Ivan dan yang lainnya. Sepertinya sesekali tak datang bukanlah masalah. Toh, kali ini hanya mau mencetak foto tempo hari. Kalau hatinya disuruh memilih,sekarang ini dia lebih suka jika harus menemani gadis di sebelahnya ini.
Fandi tersentak sendiri. Heran dengan apa yang barusan dipikirkannya. Dilihatnya Winna sibuk ber-sms. Kemudian gadis itu bangun.
“Aku dijemput. Duluan ya? Kita terusin kapan-kapan.”
Fandi mengangguk, berdiri dan memakai tasnya. Berniat ikut pulang. Winna berjalan lebih dulu ke arah pintu. Kemudian gadis itu berbalik dan tersenyum.
“Kapan-kapan aku mau lihat foto  karyamu...”
Kemudian dengan cepat Winna pergi. Sekali lagi meninggalkan Fandi yang bingung. Tanpa disadarinya, Fandi tersenyum. Ada rasa nyaman menyeruak dihatinya.
^^^
“Berarti kita ambil tema prom night buat pemotretan yearbook.”
“Nggak nggak. Anak-anak cowok kan nggak setuju,” Fandi membantah pendapat Winna yang sekenanya.
Winna kesal. “Tadi kan kita udah voting. Yang paling banyak dipilih itu prom.”
Fandi mencondongkan tubuhnya, mendekat ke Winna. “Anak cewek itu lebih banyak daripada cowok. Jadi udah pasti kalian bakal menang.”
Meta menyaksikan Winna dan Fandi yang berdebat di depan pintu kelas sambil mendecakkan lidah. “Kok malah berantem sih.”
“Ada yang bilang berantem itu tanda akrab,” Anita menimpali.
Priska menopang dagunya. “Aku setuju. Kalau dilihat dari cara mereka berantem kayaknya udah deket. Semoga aja yearbook kita bisa selesai dengan lancar.”
Zia menggigit bibir. Matanya belum bisa lepas dari Fandi dan Winna. Soal mereka berdua akrab sepertinya memang benar. Ia sudah beberapa kali menjadi saksi mata.
Saat Winna tertidur dan Fandi menunggui di sebelahnya. Yang akhirnya Fandi mengantar Winna pulang. Beberapa kali mereka tinggal di kelas berdua setelah pelajaran usai untuk membahas hal yang tidak ia tahu. Dan hal-hal sepele lainnya.
Hati Zia gelisah. Haruskah ia merasakan semua ini? Pantaskah ia?
Zia kembali memandang Winna dan Fandi. Kali ini pertengkaran mereka sudah agak mereda.
Fandi mengangkat tanggannya, menyerah. “Oke. Kita ambil tema prom. Jadi ga usah cemberut kayak gitu lagi.”
Senyum di wajah Winna kembali lagi. “Makasih! Kamu emang yang paling baik!”
Kemudian Winna berlari ke dalam kelas, menghampiri Meta dan bicara soal keputusan tema pemotretan.
Zia kembali memandang Fandi. Pemuda itu sedang melihat ke arah lain. Matanya terlihat lebih lembut daripada biasanya. Zia merasakan hatinya runtuh saat menelusuri untuk siapa pendangan itu diberikan.
Ia sudah tak sanggup lagi bertahan.
^^^
Bulan Januari sudah mulai memasuki akhir. Intensitas hujan sudah berkurang. Berganti dengan panas matahari yang seakan tak pernah ada habisnya.
Ujian akhir kurang satu setengah bulan lagi. Jadwal tambahan pelajaran mulai menggila. Membuat semua murid malas belajar dan kehilangan waktu bermain dan santai. Seringkali mereka membolos pelajaran tambahan yang menurut mereka membosankan, dan pergi melepas penat dengan bermain.
Winna duduk di bangku terdepan bersama Meta dan yang lainnya. Menghadapi soal-soal tambahan matematika yang belum sempat terselesaikan tempo hari.
Winna menguncir rambutnya, tangan kanan memengang pulpen dan tangan kirinya memegang kipas untuk mendinginkan tubuh.
“Kipasnya geser dong, Win! Panas nih...” Priska menarik tangan kiri Winna, mendekatkan kipas ke arahnya.
“Aku nyerah,” Winna membanting pulpennya ke atas meja dengan suara keras. Kemudian bangun dari tempat duduknya.  Melirik jam dinding. Jam lima sore. “Aku mau pulang.”
^^^
Fandi duduk di pinggir lapangan bola sekolah. Kelelahan. Sementara teman-temannya yang lain masih asyik bermain bola.langit sudah mulai berubah orange, tapi udara masih terasa panas.
Diputarnya pandangan. Di samping podium sekolah ia melihat Widhi, anak IPA 5 atau 4 kalau ia tak salah ingat, sedang bicara dengan seorang gadis berkerudung. Pacarnya mungkin. Fandi sudah beberapa kali melihat Widhi bersama gadis itu.
Tak lama kemudian, Fandi melihat Winna keluar dari podium sambil mengusap wajahnya. Langkah gadis itu terhenti saat mendapati dua orang yang lain di sana. Wajahnya berubah. Dan Winna cepat-cepat membalikkan badan, bergegas pergi.
Fandi tersadar. Dengan cepat disambarnya jaket dan tasnya. Menuju ke motornya.
“Woi... aku duluan ya!” pamitnya pada teman-temannya yang lain.
Seklias Fandi melirik ke arah Widhi. Pemuda itu sepertinya menyadari kepergian Winna barusan. Mata Widhi memandang ke arah Winna pergi. Dan itu membuat kesabaran Fandi habis. Ia segera menyalakan motor dan menyusul Winna.

Story - Part 2

Di goreskan oleh Yunna , Selasa, 01 Februari 2011 11.00

 3

Aku merasa diriku orang yang sangat beruntung.
Aku punya cinta dan dicintai.
Aku punya banyak kehidupan yang harus kujalani.
Dan aku punya diriku.

Aku ingin selamanya beruntung.
Beruntung dimiliki dan memiliki.

Aku ingin menjalani hidup dengan segala keberuntungan.
Namun hanya satu kesialanku.
Yaitu saat aku tak bisa memilikimu.
Walau hanya sekejab.

Winna berhenti mengetik. Membaca ulang puisi yang baru ditulisnya itu. Merenungi maknanya.
“Bodoh,” desisnya pelan. Kemudian menutup layar laptop dan memandangi tembok kamar di depannya.
Winna ingin mengubur cinta yang pernah dialaminya. Ia ingin membuka lembaran baru lagi. Tapi gadis itu tak tahu bagaimana caranya membuka lembaran itu. Ia belum menemukan seseorang yang akan membantunya membuka lembaran yang baru lagi. Orang yang akan kembali mengisi hidupnya.
“Kapan ya, aku bisa membuka lembaran baru itu?” lamunnya lagi.
Suara dering hp di meja belajar membuyarkan lamunan Winna. Ada pesan masuk. Buka. Meta.
Bsk ad rapat YB. Jng lpa! Ajk Fandi jg... oke...
“Haah...” Winna menghela nafas, “Aku lupa sekarang aku koordinator.”
^^^
Pertengahan musim hujan. Winna sangat menyukai hujan. Suara air yang jatuh di atap dan pepohonan. Wangi udara khas hujan. Ia menikmati semua itu. Hal-hal sederhana seperti itulah yang kadang membuatnya rela menunda waktu pulangnya dari sekolah. Hanya untuk mengamati titik air yang mengguyur bangunan kuno ini.
Rapat yearbook selesai 10 menit yang lalu. Winna menunggu di jemput sambil berjalan di koridor sekolah. Fandi berjalan 2 meter di belakangnya sambil sesekali memotret hujan. Keheningan menyelimuti keduanya selama beberapa saat.
“Kamu nggak pulang Fan?”
“Abis kamu di jemput aku pulang.” Fandi menyahut kemudian duduk di bangku koridor sambil memainkan kameranya.
Winna tersenyum, kemudian gadis itu menjulurkan tangannya untuk menyentuh air hujan yang jatuh dari atap.
“Fan,” Winna membuka suara, “Kenapa kamu suka fotografi?”
Fandi mendogak. Menatap punggung Winna di depannya. “Suka aja. Aku ngerasain hal-hal baru lewat kamera.”
“Misal?” Winna menoleh, menatap Fandi.
Fandi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Waktu kamu ngambil gambar anak jalanan misalnya. Kamu bisa ngerasa senang tapi juga sedih di waktu bersamaan. Kamu nggak perlu takut buat ngungkapin persaan dan emosi lewat foto.”
“Aku ngerti kok. Kadang aku juga gitu. Perasaanku lepas banget kalo udah nulis.”
“Kamu suka nulis?” Fandi balik bertanya.
“Aku nulis kalau perasaanku lagi gak enak. Semua yang aku rasain bakal aku tuangin dalam tulisan. Kalau udah, rasanya plog. Lega banget. Tapi ada juga hal yang gak bisa aku ungkapin cuma sekedar lewat tulisan,” sekilas Fandi menangkap ekspresi sendu di wajah Winna.
“Seseorang ya?” sahut Fandi tiba-tiba.
“Apanya?” Winna menjawab dengan wajah bingung
Fandi menghela nafas lagi, menatap ke mata gadis di depannya. “Yang gak bisa kamu ungkapin lewat tulisan. Itu pasti seseorang ya?”
Winna diam seribu bahasa, berbalik. Tak menjawab pertanyaan Fandi barusan.
“Fan, kamu nggak pengen punya pacar?” tanyanya lagi, masih membelakangi Fandi.
“Dulu pernah ada seseorang. Tapi sekarang pacarku cuma satu. Kameraku.”
Winna tertawa mendengarnya.
“Aku dijemput,” Winna menatap layar hp-nya, “duluan ya.”
Winna berjalan keluar. Sebelum benar-benar jauh, gadis itu menoleh.
“Makasih.”
Fandi kehilangan kata-kata. Hanya membalas dengan senyum kecil.
^^^
Zia menguap pelan. Ia kurang tidur semalam. Lingkarang matanya terlihat agak gelap. Pintu kelas sudah terbuka. Zia mempercepat langkahnya. Dari depan pintu Zia sudah bisa melihat Winna yang sedang duduk di atas meja. Telinganya di sumbat dengan earphone. Wajahnya polos seperti biasa. Dan rambut panjangnya dikuncir kebelakang.
“Pagi Zi,” sapa Winna sembari melepas earphonenya.
“Pagi Win,” Zia meletakkan tasnya di bangku kedua, “udah bikin peer akutansi?
Winna meloncat turun dari meja, “Baru separuh. Nanti aku selesein.”
“Mau liat punyaku?” tawar Zia ramah.
“Eh, bener? Boleh nih?” sepasang mata Winna bersinar.
“Bener. Sebelum aku berubah pikiran.” Zia menyodorkan buku tugasnya, yang langsung disambut Winna dengan penuh sukacita.
“Zia baik banget...”
Dan tak sampai semenit Winna sudah duduk di bangkunya dengan tenang. Menyalin peer yang semalam membuat kepalanya pusing dan berputar.
“Itu apa?”
Suara Fandi yang tiba-tiba mengagetkan Winna, membuat tabel yang sedang dibuatnya melenceng.
“Ck... jadi menceng,” gerutu Winna pelan, “jangan ngagetin aku dong, Fan!”
“Maaf. Itu peer apa?” Fandi mengulang pertanyaannya.
“Akutansi. Kamu udah ngerjain?” Winna bertanya sambil menghapus garis yang melenceng.
“Belum.”
Fandi langsung mengambil tempat duduk di sebelah Winna. Mengeluarkan buku tugasnya dan ikut mengerjakan.
“Izin dulu sama Zia dong! Ini punya dia, jangan main nyontek aja,” Winna menarik buku Zia menjauh dari jangkauan Fandi.
Fandi menoleh ke arah Zia. “Boleh liat kan, Zi?”
Zia otomatis memasang senyum dan mengangguk. “Boleh kok. Liat aja.”
Selagi dua orang itu menyalin tugas, diam-diam Zia memperhatikan dengan seksama. Sejak kapan mereka jadi dekat? Batin Zia.
Mereka tampak tak canggung. Apalagi Fandi yang biasa cuek, bisa mengobrol dengan Winna begitu santainya. Sesekali cowok itu tersenyum. Zia miris melihat pemandangan itu.
Kenapa bukan aku? Sekali lagi Zia membisikkan kalimat itu di hatinya.
^^^
Waktu berlalu dengan sangat cepat. Ulangan akhir semester sudah semakin dekat. Pelajaran kelas jadi semakin cepat dan padat. Para guru seakan ingin mengejar materi tanpa mempedulikan muridnya mengerti atau tidak.
Di dalam kelas, diam-diam Winna mengeluarkan hp dari dalam saku roknya. Satu pesan baru. Buka. Dari Putri, sepupunya. Gadis ini memundurkan badan sedikit, kemudian mulai membaca sms.
Halu... ntar mampir krmh y! Kangen... ^.^
Winna tersenyum membaca sms itu. Moodnya yang menguap sejak pagi kembali seperti semula. Diambilnya pulpen, kemudian membuka halaman terakhir buku tulisnya dan mulai menulis.

Kau terperangkap rindu.
Rindu yang merasuk dan menghatui.
Kau menghindar, berarti benci.
Kau mendekat hatimu malu.
Mau apa?
Mungkin bertemu mungkin berpisah.
Mana yang kau ambil?
Pertemuan atau kematian?

4

Kedua saudara sepupu itu duduk di salah satu cafe kecil yang letaknya agak tersembunyi di salah satu gang sekitar wilayah kampus. Yang satu memakai seragam identitas sekolah berwarna coklat dan yang satunya memakai seragam OSIS SMA. Wajah keduanya mirip, terutama mata mereka yang sama-sama berwarna cokelat bening.
 “Jadi...”
“Apanya?” Putri menatap sepupu yang duduk di seberangnya dengan wajah bertanya-tanya.
“Mau cerita apa? Kalau kamu bilang kangen, berarti mau curhat. Sekarang tentang apa?” Winna menyahut tanpa basa-basi lagi. Menatap langsung ke mata yang mirip dengan matanya. Putri adalah sepupu yang seumuran dengannya.
Wajahnya cantik dengan hidung mungil yang mancung dan kulit putih bersih. Rambutnya dipotong pendek sebahu dan seringkali dihias bando cantik.
Putri tersenyum lebar. “Aku putus sama pacarku.”
Kedua alis Winna berkerut. “Putus kok ketawa?
“Win, kamu kan tahu sendiri aku udah lama pengen putus sama dia. Jadi mumpung sekarang ada kesempatan ya aku putusin aja,” ujar Putri sambil mengangkat bahu, “sekarang kita sama-sama jadi jomblo sejati.”
Winna mengerucutkan bibirnya. “Gampang ya ngomong gitu...”
Putri tertawa.
“Katanya jadi koordinator yearbook, kok nggak sibuk, Win?”
“Nggak, lebih tepatnya belum. Lagian aku nggak sendirian kok ngurus yearbook.”
Putri mencondongkan badannya, “aku tahu. Kamu pernah cerita. By the way, yang namanya Fandi itu cakep nggak?”
Spontan Winna cemberut. “Itu tujuanmu manggil aku jauh-jauh kesini?”
Putri tertawa lagi, “Kan aku cuma tanya, Winna sayang...”
“Emm... cakep sih,” Winna menopang dagu, “banyak penggemarnya juga setahuku. Suka fotografi dan selalu bawa kamera ke sekolah. Tapi dia orang aneh.”
“Orang aneh?”
“Gitu deh! Sikapnya sama sekali nggak bisa ditebak. Bingung kalau ngadepin dia,” Winna menyandarkan punggungnya di kursi dan meminum jus strawberynya.
Putri mengangguk-angguk di tempatnya. “Kamu suka ya? Ah ralat. Kamu tertarik ya sama yang namanya Fandi itu?”
Winna tersedak, “Apaan sih! Nggak kok!”
“Kalau kamu marah berarti iya,” sahut Putri dengan cuek.
Winna memalingkan wajah, kesal. Tak ada gunanya berkelit di depan saudaranya ini. Seakan isi kepalanya akan jadi transparan dan mudah di baca oleh Putri.
Winna memikirkan lagi kata-kata Putri barusan. Apa benar ia tertarik pada cowok yang cuek dan aneh itu?
Gadis itu menghela nafas panjang. Ia tidak mengerti perasaannya sendiri.
^^^
Suara musik klasik sama-samar terdengar dari luar bangunan mungil di tepi jalan itu. Winna turun dari motor dan mengikuti seretan tangan Putri. Di depannya ada sebuah plang kecil. Bertuliskan STUDIO ALAM
“Mau ngapain ke sini?”
“Ketemu temenku bentar. Ambil tugas.”
Mata Winna membulat, “di sini? Di studio foto?”
Putri memutar tubuhnya dan mentapa saudara sepupunya dengan pandangan jangan-tanya-lagi, “Ayahnya kerja jadi fotografer. Tunggu sini bentar. Aku nggak lama kok.”
Putri meninggalkan Winna di dekat pintu keluar studio. Kesal di tinggalkan, gadis ini duduk di bangku yang ada di sana sambil memandang sekitarnya, melamun.

Fandi menerima amplop berisi foto yang baru dicetaknya. Ivan masih di dalam studio, memilih foto yang akan dicetak. Fandi memilih keluar lebih dulu. Dan kaget saat melihat Winna di pintu.
“Winna?”
Yang di panggil langsung tersentak dari lamunannya. Mengerjabkan matanya sebentar dan menoleh.
“Oh,” Winna menjawab dengan agak kikuk, “hai Fan, lagi ngapain di sini?”
Fandi berjalan mendekati Winna, melambaikan amplop fotonya. “Harusya aku yang tanya gitu sama kamu.”
Winna tertawa kecil sebelum menjawab. “Aku nemenin sepupuku ngambil tugas. Ini rumah temennya.”
Belum sempat Fandi menjawab lagi, Ivan keluar dan langsung menyerobot pembicaraan.
“Winna ya? Lama nggak ketemu ya... inget gak sama aku?”
Gadis itu diam sebentar. “Ivan ya?” jawabnya ragu-ragu.
Ivan melonjak senang, “ternyata kamu inget. Tambah cantik ya sekarang.”
Winna tertawa kikuk mendengar ucapan Ivan. Fandi langsung menyikut Ivan yang melotot kesal.
Sedetik kemudian Putri muncul. “Yuk, Win. Pulang.”
Winna berbalik mengikuti sepupunya, “duluan ya,” sahutnya sambil tersenyum. Ivan membalas dengan lambaian tangan sementara Fandi membalas dengan senyum samar.

Setelah agak jauh, Putri membuka kaca helmnya dan bertanya.
“Tadi siapa?”
“Yang pake seragam identitas itu Fandi, yang satunya lagi Ivan, temen SMP.”
“Cakep lho...”
Winna tak mejawab lagi. Matanya memandang jalanan sore yang ramai. Pikirannya mulai berkelana. Ada apa sih denganku? Batinnya.
^^^
Suara jangkrik malam mendominasi. Menenangkan pikiran yang kalut.
Winna menutup buku Geografinya dengan malas. Menumpuk dan memasukkannya ke dalam tas. Tangannya meraih laptop dari dalam lemari dan menyalakannya. Ada yang ingin di ungkapkannya. Diutarakan.
Bukan hanya sekedar puisi. Ia ingin membuat sebuah cerita. Cerita tentang dirinya yang bodoh dan tak pernah bisa mengerti diri sendiri. Kisahnya suka duka menjalani hidup. Ia ingin menuliskan semua. Ia ingin semua orang mengerti apa yang dirasakannya. Apa yang dipikirkannya.
Bibirnya mengulas senyum.
“Semoga cerita ini akan berakhir bahagia.”
^^^
Fandi termenung menatap tabel-tabel akutansi di depannya. Pikirannya sedang tidak bisa fokus pada hal yang seharusnya dipelajarinya itu. Fandi menyerah. Bangkit dari meja belajar dan duduk di lantai. Meraih gitarnya.
Tangannya yang terlatih itu mulai memetik gitar. Membiarkan suaranya memecah kesunyian malam.
Tiap nada yang kelauar dari gitarnya, membuat Fandi membayangkan seseorang. Seseorang yang baru akhir-akhir ini menghias hidupnya dan mendekat padanya perlahan-lahan. Tanpa sebab dan alasan.
Gerakan tangannya terhenti saat hp-nya berdering pelan. Ada sms masuk. Dari Zia. Fandi menghela nafas. Apa mau gadis ini? Sudah cukup mereka digosipkan di sekolah. Ia memang tidak terganggu, tapi ada rasa takut menyelinap dihatinya.
Apa ini?

Bulan tersenyum di balik gumpalan awan. Seakan menyimpan rahasia yang hanya diketahuinya saja. Rahasia tentang perasaan manusia. Pikiran manusia dan segala curahan hatinya yang terdalam.
Entah kapan. Entah sampai kapan sang bulan akan terus memendamnya sendiri. Sampai rasanya sang waktu menyerah, maka bulan akan mengungkapkan semua. 

bersambung...