Story - Part 2

Di goreskan oleh Yunna , Selasa, 01 Februari 2011 11.00

 3

Aku merasa diriku orang yang sangat beruntung.
Aku punya cinta dan dicintai.
Aku punya banyak kehidupan yang harus kujalani.
Dan aku punya diriku.

Aku ingin selamanya beruntung.
Beruntung dimiliki dan memiliki.

Aku ingin menjalani hidup dengan segala keberuntungan.
Namun hanya satu kesialanku.
Yaitu saat aku tak bisa memilikimu.
Walau hanya sekejab.

Winna berhenti mengetik. Membaca ulang puisi yang baru ditulisnya itu. Merenungi maknanya.
“Bodoh,” desisnya pelan. Kemudian menutup layar laptop dan memandangi tembok kamar di depannya.
Winna ingin mengubur cinta yang pernah dialaminya. Ia ingin membuka lembaran baru lagi. Tapi gadis itu tak tahu bagaimana caranya membuka lembaran itu. Ia belum menemukan seseorang yang akan membantunya membuka lembaran yang baru lagi. Orang yang akan kembali mengisi hidupnya.
“Kapan ya, aku bisa membuka lembaran baru itu?” lamunnya lagi.
Suara dering hp di meja belajar membuyarkan lamunan Winna. Ada pesan masuk. Buka. Meta.
Bsk ad rapat YB. Jng lpa! Ajk Fandi jg... oke...
“Haah...” Winna menghela nafas, “Aku lupa sekarang aku koordinator.”
^^^
Pertengahan musim hujan. Winna sangat menyukai hujan. Suara air yang jatuh di atap dan pepohonan. Wangi udara khas hujan. Ia menikmati semua itu. Hal-hal sederhana seperti itulah yang kadang membuatnya rela menunda waktu pulangnya dari sekolah. Hanya untuk mengamati titik air yang mengguyur bangunan kuno ini.
Rapat yearbook selesai 10 menit yang lalu. Winna menunggu di jemput sambil berjalan di koridor sekolah. Fandi berjalan 2 meter di belakangnya sambil sesekali memotret hujan. Keheningan menyelimuti keduanya selama beberapa saat.
“Kamu nggak pulang Fan?”
“Abis kamu di jemput aku pulang.” Fandi menyahut kemudian duduk di bangku koridor sambil memainkan kameranya.
Winna tersenyum, kemudian gadis itu menjulurkan tangannya untuk menyentuh air hujan yang jatuh dari atap.
“Fan,” Winna membuka suara, “Kenapa kamu suka fotografi?”
Fandi mendogak. Menatap punggung Winna di depannya. “Suka aja. Aku ngerasain hal-hal baru lewat kamera.”
“Misal?” Winna menoleh, menatap Fandi.
Fandi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Waktu kamu ngambil gambar anak jalanan misalnya. Kamu bisa ngerasa senang tapi juga sedih di waktu bersamaan. Kamu nggak perlu takut buat ngungkapin persaan dan emosi lewat foto.”
“Aku ngerti kok. Kadang aku juga gitu. Perasaanku lepas banget kalo udah nulis.”
“Kamu suka nulis?” Fandi balik bertanya.
“Aku nulis kalau perasaanku lagi gak enak. Semua yang aku rasain bakal aku tuangin dalam tulisan. Kalau udah, rasanya plog. Lega banget. Tapi ada juga hal yang gak bisa aku ungkapin cuma sekedar lewat tulisan,” sekilas Fandi menangkap ekspresi sendu di wajah Winna.
“Seseorang ya?” sahut Fandi tiba-tiba.
“Apanya?” Winna menjawab dengan wajah bingung
Fandi menghela nafas lagi, menatap ke mata gadis di depannya. “Yang gak bisa kamu ungkapin lewat tulisan. Itu pasti seseorang ya?”
Winna diam seribu bahasa, berbalik. Tak menjawab pertanyaan Fandi barusan.
“Fan, kamu nggak pengen punya pacar?” tanyanya lagi, masih membelakangi Fandi.
“Dulu pernah ada seseorang. Tapi sekarang pacarku cuma satu. Kameraku.”
Winna tertawa mendengarnya.
“Aku dijemput,” Winna menatap layar hp-nya, “duluan ya.”
Winna berjalan keluar. Sebelum benar-benar jauh, gadis itu menoleh.
“Makasih.”
Fandi kehilangan kata-kata. Hanya membalas dengan senyum kecil.
^^^
Zia menguap pelan. Ia kurang tidur semalam. Lingkarang matanya terlihat agak gelap. Pintu kelas sudah terbuka. Zia mempercepat langkahnya. Dari depan pintu Zia sudah bisa melihat Winna yang sedang duduk di atas meja. Telinganya di sumbat dengan earphone. Wajahnya polos seperti biasa. Dan rambut panjangnya dikuncir kebelakang.
“Pagi Zi,” sapa Winna sembari melepas earphonenya.
“Pagi Win,” Zia meletakkan tasnya di bangku kedua, “udah bikin peer akutansi?
Winna meloncat turun dari meja, “Baru separuh. Nanti aku selesein.”
“Mau liat punyaku?” tawar Zia ramah.
“Eh, bener? Boleh nih?” sepasang mata Winna bersinar.
“Bener. Sebelum aku berubah pikiran.” Zia menyodorkan buku tugasnya, yang langsung disambut Winna dengan penuh sukacita.
“Zia baik banget...”
Dan tak sampai semenit Winna sudah duduk di bangkunya dengan tenang. Menyalin peer yang semalam membuat kepalanya pusing dan berputar.
“Itu apa?”
Suara Fandi yang tiba-tiba mengagetkan Winna, membuat tabel yang sedang dibuatnya melenceng.
“Ck... jadi menceng,” gerutu Winna pelan, “jangan ngagetin aku dong, Fan!”
“Maaf. Itu peer apa?” Fandi mengulang pertanyaannya.
“Akutansi. Kamu udah ngerjain?” Winna bertanya sambil menghapus garis yang melenceng.
“Belum.”
Fandi langsung mengambil tempat duduk di sebelah Winna. Mengeluarkan buku tugasnya dan ikut mengerjakan.
“Izin dulu sama Zia dong! Ini punya dia, jangan main nyontek aja,” Winna menarik buku Zia menjauh dari jangkauan Fandi.
Fandi menoleh ke arah Zia. “Boleh liat kan, Zi?”
Zia otomatis memasang senyum dan mengangguk. “Boleh kok. Liat aja.”
Selagi dua orang itu menyalin tugas, diam-diam Zia memperhatikan dengan seksama. Sejak kapan mereka jadi dekat? Batin Zia.
Mereka tampak tak canggung. Apalagi Fandi yang biasa cuek, bisa mengobrol dengan Winna begitu santainya. Sesekali cowok itu tersenyum. Zia miris melihat pemandangan itu.
Kenapa bukan aku? Sekali lagi Zia membisikkan kalimat itu di hatinya.
^^^
Waktu berlalu dengan sangat cepat. Ulangan akhir semester sudah semakin dekat. Pelajaran kelas jadi semakin cepat dan padat. Para guru seakan ingin mengejar materi tanpa mempedulikan muridnya mengerti atau tidak.
Di dalam kelas, diam-diam Winna mengeluarkan hp dari dalam saku roknya. Satu pesan baru. Buka. Dari Putri, sepupunya. Gadis ini memundurkan badan sedikit, kemudian mulai membaca sms.
Halu... ntar mampir krmh y! Kangen... ^.^
Winna tersenyum membaca sms itu. Moodnya yang menguap sejak pagi kembali seperti semula. Diambilnya pulpen, kemudian membuka halaman terakhir buku tulisnya dan mulai menulis.

Kau terperangkap rindu.
Rindu yang merasuk dan menghatui.
Kau menghindar, berarti benci.
Kau mendekat hatimu malu.
Mau apa?
Mungkin bertemu mungkin berpisah.
Mana yang kau ambil?
Pertemuan atau kematian?

4

Kedua saudara sepupu itu duduk di salah satu cafe kecil yang letaknya agak tersembunyi di salah satu gang sekitar wilayah kampus. Yang satu memakai seragam identitas sekolah berwarna coklat dan yang satunya memakai seragam OSIS SMA. Wajah keduanya mirip, terutama mata mereka yang sama-sama berwarna cokelat bening.
 “Jadi...”
“Apanya?” Putri menatap sepupu yang duduk di seberangnya dengan wajah bertanya-tanya.
“Mau cerita apa? Kalau kamu bilang kangen, berarti mau curhat. Sekarang tentang apa?” Winna menyahut tanpa basa-basi lagi. Menatap langsung ke mata yang mirip dengan matanya. Putri adalah sepupu yang seumuran dengannya.
Wajahnya cantik dengan hidung mungil yang mancung dan kulit putih bersih. Rambutnya dipotong pendek sebahu dan seringkali dihias bando cantik.
Putri tersenyum lebar. “Aku putus sama pacarku.”
Kedua alis Winna berkerut. “Putus kok ketawa?
“Win, kamu kan tahu sendiri aku udah lama pengen putus sama dia. Jadi mumpung sekarang ada kesempatan ya aku putusin aja,” ujar Putri sambil mengangkat bahu, “sekarang kita sama-sama jadi jomblo sejati.”
Winna mengerucutkan bibirnya. “Gampang ya ngomong gitu...”
Putri tertawa.
“Katanya jadi koordinator yearbook, kok nggak sibuk, Win?”
“Nggak, lebih tepatnya belum. Lagian aku nggak sendirian kok ngurus yearbook.”
Putri mencondongkan badannya, “aku tahu. Kamu pernah cerita. By the way, yang namanya Fandi itu cakep nggak?”
Spontan Winna cemberut. “Itu tujuanmu manggil aku jauh-jauh kesini?”
Putri tertawa lagi, “Kan aku cuma tanya, Winna sayang...”
“Emm... cakep sih,” Winna menopang dagu, “banyak penggemarnya juga setahuku. Suka fotografi dan selalu bawa kamera ke sekolah. Tapi dia orang aneh.”
“Orang aneh?”
“Gitu deh! Sikapnya sama sekali nggak bisa ditebak. Bingung kalau ngadepin dia,” Winna menyandarkan punggungnya di kursi dan meminum jus strawberynya.
Putri mengangguk-angguk di tempatnya. “Kamu suka ya? Ah ralat. Kamu tertarik ya sama yang namanya Fandi itu?”
Winna tersedak, “Apaan sih! Nggak kok!”
“Kalau kamu marah berarti iya,” sahut Putri dengan cuek.
Winna memalingkan wajah, kesal. Tak ada gunanya berkelit di depan saudaranya ini. Seakan isi kepalanya akan jadi transparan dan mudah di baca oleh Putri.
Winna memikirkan lagi kata-kata Putri barusan. Apa benar ia tertarik pada cowok yang cuek dan aneh itu?
Gadis itu menghela nafas panjang. Ia tidak mengerti perasaannya sendiri.
^^^
Suara musik klasik sama-samar terdengar dari luar bangunan mungil di tepi jalan itu. Winna turun dari motor dan mengikuti seretan tangan Putri. Di depannya ada sebuah plang kecil. Bertuliskan STUDIO ALAM
“Mau ngapain ke sini?”
“Ketemu temenku bentar. Ambil tugas.”
Mata Winna membulat, “di sini? Di studio foto?”
Putri memutar tubuhnya dan mentapa saudara sepupunya dengan pandangan jangan-tanya-lagi, “Ayahnya kerja jadi fotografer. Tunggu sini bentar. Aku nggak lama kok.”
Putri meninggalkan Winna di dekat pintu keluar studio. Kesal di tinggalkan, gadis ini duduk di bangku yang ada di sana sambil memandang sekitarnya, melamun.

Fandi menerima amplop berisi foto yang baru dicetaknya. Ivan masih di dalam studio, memilih foto yang akan dicetak. Fandi memilih keluar lebih dulu. Dan kaget saat melihat Winna di pintu.
“Winna?”
Yang di panggil langsung tersentak dari lamunannya. Mengerjabkan matanya sebentar dan menoleh.
“Oh,” Winna menjawab dengan agak kikuk, “hai Fan, lagi ngapain di sini?”
Fandi berjalan mendekati Winna, melambaikan amplop fotonya. “Harusya aku yang tanya gitu sama kamu.”
Winna tertawa kecil sebelum menjawab. “Aku nemenin sepupuku ngambil tugas. Ini rumah temennya.”
Belum sempat Fandi menjawab lagi, Ivan keluar dan langsung menyerobot pembicaraan.
“Winna ya? Lama nggak ketemu ya... inget gak sama aku?”
Gadis itu diam sebentar. “Ivan ya?” jawabnya ragu-ragu.
Ivan melonjak senang, “ternyata kamu inget. Tambah cantik ya sekarang.”
Winna tertawa kikuk mendengar ucapan Ivan. Fandi langsung menyikut Ivan yang melotot kesal.
Sedetik kemudian Putri muncul. “Yuk, Win. Pulang.”
Winna berbalik mengikuti sepupunya, “duluan ya,” sahutnya sambil tersenyum. Ivan membalas dengan lambaian tangan sementara Fandi membalas dengan senyum samar.

Setelah agak jauh, Putri membuka kaca helmnya dan bertanya.
“Tadi siapa?”
“Yang pake seragam identitas itu Fandi, yang satunya lagi Ivan, temen SMP.”
“Cakep lho...”
Winna tak mejawab lagi. Matanya memandang jalanan sore yang ramai. Pikirannya mulai berkelana. Ada apa sih denganku? Batinnya.
^^^
Suara jangkrik malam mendominasi. Menenangkan pikiran yang kalut.
Winna menutup buku Geografinya dengan malas. Menumpuk dan memasukkannya ke dalam tas. Tangannya meraih laptop dari dalam lemari dan menyalakannya. Ada yang ingin di ungkapkannya. Diutarakan.
Bukan hanya sekedar puisi. Ia ingin membuat sebuah cerita. Cerita tentang dirinya yang bodoh dan tak pernah bisa mengerti diri sendiri. Kisahnya suka duka menjalani hidup. Ia ingin menuliskan semua. Ia ingin semua orang mengerti apa yang dirasakannya. Apa yang dipikirkannya.
Bibirnya mengulas senyum.
“Semoga cerita ini akan berakhir bahagia.”
^^^
Fandi termenung menatap tabel-tabel akutansi di depannya. Pikirannya sedang tidak bisa fokus pada hal yang seharusnya dipelajarinya itu. Fandi menyerah. Bangkit dari meja belajar dan duduk di lantai. Meraih gitarnya.
Tangannya yang terlatih itu mulai memetik gitar. Membiarkan suaranya memecah kesunyian malam.
Tiap nada yang kelauar dari gitarnya, membuat Fandi membayangkan seseorang. Seseorang yang baru akhir-akhir ini menghias hidupnya dan mendekat padanya perlahan-lahan. Tanpa sebab dan alasan.
Gerakan tangannya terhenti saat hp-nya berdering pelan. Ada sms masuk. Dari Zia. Fandi menghela nafas. Apa mau gadis ini? Sudah cukup mereka digosipkan di sekolah. Ia memang tidak terganggu, tapi ada rasa takut menyelinap dihatinya.
Apa ini?

Bulan tersenyum di balik gumpalan awan. Seakan menyimpan rahasia yang hanya diketahuinya saja. Rahasia tentang perasaan manusia. Pikiran manusia dan segala curahan hatinya yang terdalam.
Entah kapan. Entah sampai kapan sang bulan akan terus memendamnya sendiri. Sampai rasanya sang waktu menyerah, maka bulan akan mengungkapkan semua. 

bersambung... 

1 Response to "Story - Part 2"