Tears for Mom

Di goreskan oleh Yunna , Rabu, 12 Januari 2011 12.25



Angin bertiup lebih kencang daripada biasanya. Jemuran yang kutaruh di halaman samping terbang dan jatuh semua. Dan itu menyebalkan.

Belum lagi kabar yang aku dapat ibuku setengah jam yang lalu.

Ibuku sudah ada di kantor saat tiba-tiba meneleponku dirumah. Ibuku bilang bahwa beliau ditawari aplikasi beasiswa di Amerika untuk tahun ini. Kaget sudah tentu. Tapi aku entah kenapa juga sedih.

Aku sudah past senang dengan kabar yang dibawa ibuku. Itu adalah salah satu impian Ibu sejak dulu. Suara beliau saat menyampaikan kabar itu begitu jernih dan ceria. Kalau boleh jujur aku ingin menangis saat mendengar kabar itu. Entah tangisan bahagia atau sebuah suara kesedihan aku sama sekali tidak tahu.

Tapi nada suara Ibu membuatku menahan suara dan mencoba bersikap seolah aku senang, tidak ada tangisan. Tidak ada kesedihan.
Aku tidak ingin Ibu mengubah pikirannya kalau sampai beliau tahu aku menangis karena hal ini. Aku sama sekali tak ingin merusak apa yang sudah menjadi impian Ibu.

Sudah begitu banyak hal yang dilakukan Ibu untukku. Dan sekarang, Aku ingin mendukung apapun keputusan yang diambil oleh Ibu. Meski dalam hati aku sedikit takut dan tidak rela.

Aku tumbuh sebagai anak tunggal.
Kenyataan ini membuatku jadi sangat dekat dengan Ibu. Aku sama sekali tak bisa jauh dari Ibu. Apa yang ingin aku lakukan selalu bergantung pada keputusan Ibu. Dan semua yang ingin Ibu lakukan juga biasanya dengan seijinku.

Ibu sudah membatalkan aplikasi beasiswanya tahun lalu karena aku harus masuk kuliah. Ibu lebih mementingkanku walau sebenarnya beliau tahu kesempatan beasiswa itu mungkin tidak akan datang dua kali. Ini yang beliau ucapkan padaku.

"Kamu anak Ibu. Dan semua orang tua akan selalu mendahulukan anaknya walau itu berarti nyawa yang jadi taruhannya. Sekarang kamu belajar yang bener. Jangan pernah pikirin soal biaya. Uang itu masalah Ibu sama Bapak. Yang perlu kamu lakuin cuma belajar da jadi orang yang berguna."

Dan sekarang, aku ingin membuat Ibu tersenyum. Aku ingin membuat Ibu yakin atas apa yang akan dilakukannya.
Aku sayang Ibu. Benar-benar sayang.
Aku ingin tidak hanya Ibu yang bangga akan putrinya. Tapi aku sebagai Putrinya juga bangga pada Ibuku.


Catatan Yunna:

Now, I am crying when heard that news.
But I want to be happy when you smile at me and laugh at me.
So, let me cry for this time.
I promise to you, I would'nt cry anymore.
The only thing I going to do is make you proud of me. Make you smile whatever I am doing.
Don't angry with me because of this.
Because I going to angry if you don't accept this.

I love you Mom...
I always proud of you...

Picture taken from here.

3 Response to "Tears for Mom"

Sang Cerpenis bercerita Says:

kasih ibu memang sepanjang masa ya...

catatan kecilku Says:

Kesempatan memang tak akan datang lagi, jika kemarin sudah dilepaskan dan sekarang masih dapat kesempatan lagi... pasti akan sangat sayang kalau dilewatkan lagi.

the others.... Says:

Berapa lama nih beasiswa ke Amerika-nya? Sudah harus mempersiapkan diri utk belajar mandiri dan tak lagi tergantung kepada ibu ya?