Story - Part 9

Di goreskan oleh Yunna , Selasa, 08 Februari 2011 11.00

17


Setelah kemarin bersenang-senang, sekarang saatnya kembali ke dunia nyata. Ujian.
Ini adalah ujian praktek hari terakhir. Pelajaran yang rata-rata dibenci oleh para wanita. Olahraga. Di ruang ganti, Ina berceloteh tentang betapa malasnya ia harus mengikuti ujian praktek ini.
Rara mengikuti jejak Ina. Berceloteh tiada akhir, yang membuat ruangan ganti ini terasa begitu ramai. Entah kapan lagi akan merasakan hal yang seperti ini. Dalam sebulan hal-hal seperti ini hanya akan menjadi kenangan.
^^^
Ini adalah salah satu jenis olahraga yang paling dibenci Winna. Lari. Dari semua jenis olahraga, inilah yang paling dibenci Winna. Guru olahraga sedang memberi pengarahan di depan lapangan.
“Nah, setelah ini yang laki-laki lari lebih dulu. Tapi tiap anak harus cari  partner buat menghitung waktu dulu. Laki-laki dengan perempuan. Cepat.”
Winna sedang ngobrol dengan Rara dan Ina saat Fandi tiba-tiba mencolek bahunya.
“Kenapa?”
“Itungin waktuku,” ucap Fandi. Kemudian pemuda ini pergi. Bergabung dengan anak yang lain untuk berlari.
Rara dan Ina berpandangan. Heran. Beberapa anak yang juga menyaksikan kejadian itu juga sama herannya. Tak menyangka Fandi akan meminta tolong pada Winna.

Penilaian lari berlangsung lancar. Winna seperti biasa ada di urutan belakang. Bukan apa-apa. Ia hanya malas memacu kakinya untuk berlari cepat. Toh yang penting nilainya masuk ke data guru.
Saat sedang mencuci muka di kran sekolah, Ina tiba-tiba memandanginya. Winna yang merasa tak enak akhirnya bertanya.
“Kenapa sih, Na?”
“Kamu,” ujar Ina dengan nada curiga, “lagi deket sama Fandi ya?”
Winna terkejut mendengar pernyataan Ina barusan. “Kenapa bilang gitu?”
“Tadi, waktu mau penilaian lari. Dia milih kamu dari sekian banyak cewek yang ada.”
Winna terheran-heran sendiri. “Terus kenapa? Kayaknya itu bukan hal yang istimewa deh...”
Ina mendengus kesal. “Tapi bagiku itu beda. Abis Fandi kan nggak biasanya bertingkah kayak gitu.”
Winna mencibir kesal. “Terserah,” balas Winna yang kemudian berlalu dari hadapan Ina.
“Winna!”
^^^
Setelah itu, hari berlalu dengan begitu cepat. Ujian masuk beberapa universitas sudah berlangsung. Beberapa anak sudah menentukan pilihannya dan berhasil masuk ke unversitas yang diimpikannya.
Winna berniat mengambil jurusan Akutansi di Universitas lokal. Dengan berbagai pertimbangan juga tentunya.
“Kamu mau masuk mana?” tanya Fandi tiba-tiba.
Winna terkejut. Sekarang mereka berdua sedang memilah foto untuk dimasukkan  ke dalam yearbook.
“Akutansi. Di sini aja. Aku nggak pergi ke luar kota.”
Fandi diam mendengar jawaban Winna.
“Aku masuk IKJ,” sahutnya tiba-tiba.
Sekali lagi Winna kaget, tapi gadis itu berusaha untuk tetap tenang. “Selamat.”
Fandi menarik Winna agar gadis itu mau menatapnya. “Kamu nggak sedih atau ngelarang?”
Winna tersenyum kecut. “Kalaupun aku ngelarang, apa hakku? Toh kamu ke sana buat mengejar impianmu jadi seorang fotografer. Aku nggak berhak buat melarang seseorang untuk mengejar impiannya.”
Fandi terdiam sebentar. “Jadi nggak apa-apa kan kalau aku pergi?”
Winna langsung mengangguk. “Itu pilihanmu. Yang bisa aku lakuin cuma berdoa agar semua mimpimu jadi kenyataan. Dan kalau semua itu udah terwujud, kembali ke depanku dan tunjukin kalau apa yang kamu pilih dulu bukanlah hal yang salah.”
Fandi tersenyum mendengar jawaban Winna. Kemudian dia menggenggam tangan gadis itu, membuatnya terkejut.
“Itu berarti kamu mau nunggu aku?” tanya Fandi lembut.
Winna menahan nafasnya tanpa sadar. Kemudian tersenyum. “Tergantung.”
“Apa?”
“Tergantung seberapa lama kamu suruh aku menunggu. Selama masih bisa sabar pasti akan aku tunggu.”
Jawaban Winna membuat senyum Fandi semakin lebar. Pada akhirnya Fandi berhasil membuka sebuah lembaran baru. Lembaran yang sebelumnya tidak ia duga sama sekali.
Fandi yakin, masa depan akan selalu menyambutnya. Dengan penuh senyuman.
^^^
Ini adalah hari kelulusan.
Winna memandang langit yang terlihat lebih biru daripada biasanya. Langit yang akan selalu mengantarkan seseorang menuju ke impiannya. Mimpinya. Mulai dari sekarang, ia dan teman-temannya akan menempuh jalan yang berbeda-beda.
Jalan yang mereka pilih dengan hati nurani. Jalan yang mereka anggap jalan terbaik untuk membawa mereka ke masa depan yang cerah.

Fandi menyiapkan kamera. Kemudian meletakkannya di atas meja. Fandi berlari dan bergabung dengan teman-temannya.
“Klik!”
Suara kamera bergema. Menghantarkan mereka semua menuju jalan yang berbeda.
Ina dan Rara berpelukan erat.
“Ra, janga lupain aku ya.”
“Pasti. Pasti, Na.”
Ardi yang biasanya belagu dan sok keren itu hari ini menangis bombay. Ia benar-benar sedih berpisah dari teman-temannya.
Fandi berjalan mendekati Winna. Diam-diam menggenggam tangannya.
“Aku pengen ngambil gambarmu Win. Buat yang terakhir sebelum kita pisah.”
Dan Winna mengangguk.
^^^
Langit sore itu begitu bersahabat. Winna turu dari sepeda motor fandi. Kemudian ia memegangi rambutnya yang terbang ditiup angin. Matanya menyipit memandang kota yang tampak kecil dari atas sini.
Fandi tersenyum di belakangnya. Menatap Winna dengan pandangan yang berbeda. Pandangan penuh cinta.
Entah kapan dan tanpa disadarinya, ia jatuh cinta.
Pada Winna yang keras kepala. Sangat moody dan hobi mendiktenya. Ia jatuh cinta.
Di angkatnya kamera. Mulai di ambilnya gambar gadis yang sebentar lagi takkan dilihtanya itu. Berdoa semoga langit selalu menghantarkan cintanya untuk Winna.

bersambung...

4 Response to "Story - Part 9"

Edo Says:

Bagus ceritany, apa ini pengalaman pribadi?? He n.nv

saran dunk, kalau dikasi read more pasti lebi bgus lagi...
Hnya saran lo... n.nv